Kamis, 04 Mei 2017

Posted by Manu karlos on 09.59 with No comments

Abah....masih dlm kerinduan dan tangisku dlm doaku....abah masih kmrn aku berdiri berjam-jam  dan tertunduk dihadapanmu karna hafalan alfiyah,masih kemarin engkau panggil namaku tuk membaca kitab kuning di hadapanmu,abah.....masih kemarin engkau mencariku dlm kamar dan engkau temukan aku di belakang pintu,abah.....aku rindu semua itu....😭😭😭😭begitu cepat engkau meninggalkan kita semua...abah...


MENGENANG SOSOK ABAH MANSYUR

Saat kesehatan abah semakin menurun, beliau lupa nama orang2 disekitarnya dan saat kami angkatan perdana menjenguk belia,  Abah ditanyai ning Misbah Atul siapa nama kami satu persatu,  ternyata diantara kami abah masih ingat namaku.......
Minayah yo....!!!!! (kata beliau)

Tahun 1990 serasa masih kemarin saat pertama kali ku langkahkan kakiku disini,  itupun karena aku tersesat. Ya, tersesat di jalan yang benar.
Saat itu aku telah putus asa karena tak mungkin orang tuaku menyekolahkanku setara SMA, namun aku sangat ingin melanjutkan sekolah tuk menggapai cita2ku.

Ku kumpulkan semua brosur dan ku perlihatkan ke bapak dan kupilihlah sekolah yang baru berdiri yang bernama MAPKNU(saat itu kubaca #mapekenu) , terasa aneh nama itu namun harus ku pilih karena SPP nya paling murah dan itupun masih minta keringanan.

Saat itu bukan pondok namanya,  tapi asrama yang ada ngajinya. Betapa terkejutnya aku saat masuk pertama kalinya disini teman2ku 60 siswa baru diantarkan kedua orang tuanya,  kakek neneknya serta kerabatnya dengan mobil, pakaian mereka ditaruh didalam koper, tapi aku saat itu naik bemo sendirian dan pakaianku kutaruh dalam kresek warna hitam dan bersandal jepit, namun bukan masalah bagiku yang penting aku bisa sekolah.

Disinilah aku tahu tentang NU, disinilah ada pelajaran ke-NU-an, padahal pendidikanku sebelumnya dibawah maarif tapi tidak diajarkan ke-NU-an adanya hanya di jadwal ujian saja.

Sekolah yang baru berdiri kukira yang sekolah hanya anak sekitar karangploso, tapi ternyata dari berbagai kota di wilayah Jawa Timur dan lagi mereka bukan anak orang biasa, banyak anak kiai, guru dan pengusaha dan rata2 anak orang berada sedangkan aku hanya anak seorang pencari kayu bakar yang beralih pekerjaan menjadi kuli panggul di pasar Karangploso, ada rasa minder saat itu namun aku harus tetap optimis. Disini aku mengenal berbagai karakter, disini aku bertemu guru2 yang hebat.

Ketika liburan semester abah masih sempat mengantarkan santri pulang dan mengunjungi wali murid. Meskipun duduk di bangku kayu yang reot di rumah yang berdinding bambu dan berlantai tanahpun abah dengan ramahnya tanpa memandang status sosial.

Anak beliau Nahdliyatul qodriyah saat itu masih Mts dan Nahdil khoir masih di MI serta Ahsanul Izzah belum sekolah sangat akrab dengan kami, alhamdulillah aku bersama orang2 hebat, punya teman2 yang hebat dan pastinya guru2ku orang2 hebat. Aku bersyukur telah mengenal semuanya hingga lulus yang semula 60 siswa yang bertahan hingga menamatkan pendidikan dan di wisuda pada tahun 1993 berjumlah 42 siswa.

Dikala kesendirianku merenung akan banyaknya salahku dimasa lalu, hanya iringan do'a dan tetesan air mata yang menemaniku saat ini

Abah....  Maafkan kami semua santrimu yang kurang berbakti

Terimakasih Abah yang telah membimbing kami

Terimakasih atas segala do'a yang abah panjatkan untuk kami....

Abah meninggal dengan senyuman
Semoga damai disana

Semoga keluarga tabah dan jadilah seperti abah....

#Karangploso_04 Mei 2017

Senin, 01 Mei 2017

Drs. KH. Moh. Mansyur, S.H,
Kyai yang Terlihat Biasa. Tapi, Luar Biasa.

KH. Mochammad Mansjur, SH. Pengasuh PPAI An-Nahdliyah, Kepuharjo, Karangploso
“2 PENDIDIKAN YANG DIAMALKAN” Ilmu yang diperoleh di lembaga pendidikan merupakan salah satu modal untuk berjuang menyebarkan agama Islam di tengah-tengah masyarakat. Begitu juga yang diyakini oleh Kyai Mochammad Mansjur, Krangploso, Kabupaten Malang. 

Pendidikan agama yang diperoleh beliau di dua lembaga pendidikan baik itu lembaga pendidikan formal (sekolah) maupun informal (Pondok Pesantren), merupakan modal bagi beliau untuk berkiprah di tengah-tengah masyarakat. 

Sudah PNS Tetap Nyantri. Pada mulanya pendidikan agama yang diperoleh oleh putera pasangan H. Abdul Hadi Sa’id dan Hj. Rohmah Badrun ini hanyalah sekolah formal. Kyai Mochammad Mansjur menempuh pendidikan Sekolah Dasar di daerah asal beliau, yaitu Ngijo, Karangploso.

Selanjutnya, beliau meneruskan pendidikan di PGAP (Pendidikan Guru Agama Pertama) di Singosari, dan selanjutnya diteruskan di PGA (Pendidikan Guru Agama) Malang. Setamat dari pendidikan formal, mulailah tergerak hati beliau untuk menimba ilmu di pesantren. Keinginan ini didorong oleh semangat salah satu teman bermain beliau yang terlebih dahulu berada di pesantren sejak lulus dari Sekolah Dasar. 

Pada tahun 1964, saat berusia menginjak 19 tahun, berangkatlah Kyai Mansjur muda menimba ilmu di Pesanten Ketapang yang merupakan asuhan Kyai Muhammad Sa’id. Karena penidikan yang beliau tekuni sebelumnya berada di sekolah formal dengan sistem yang modern, sedikit banyak pemikiran beliau lebih maju dibandingkan santri-santri yang lainnya. Namun demikian, Kyai Mansjur harus banyak belajar untuk menghilangkan rasa ‘Sok Modern’. Dengan tekun, Kyai Mansjur pun mengikuti pengajian demi pengajian yang diberikan di pesantren. Salah satu pengajian pengasuh yang biasa diadakan sebelum Shubuh pun tak luput untuk beliau akui. Waktu-waktu berharga di pesantren benar-benar beliau manfaatkan sehingga pelajaran-pelajaran yang ada di pesantren dapat beliau kuasai. 

Pernah suatu ketika, kyai Said memberitahukan kepada para santri bahwa ada seorang santri dari Sidoarjo yang bernama Ustadz Abdul Rozak yang sebetulnya dia nyantri di pesantren Ketapang hanya beberapa bulan saja untuk tabarrukan. akan tetapi oleh kyai Sa’id malah diminta mengajar kitab Alfiyah selama beberapa waktu itu.akhirnya dipilihlah 15 orang santri di antaranya kyai Mansjur untuk mengikuti pengajian tersebut. Sewaktu berada di pesantren, kyai Mansjur sudah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), mengajar di Madrasah Diniyah desa Jati Rejosono, dusun Mergosono Kepanjen dan juga diangkat untuk mengajar di PGA Kepanjen. Namun demikian beliau pun dengan disiplin membagi waktunya, sehingga kegiatan di pesantren bisa beliau ikuti dengan istiqomah.

”Selama di pesantren tersimpan kesan-kesan yang mendalam, khususnya saat diasuh dan dibina oleh kyai Sa’id,” kenang kyai Mansjur di hadapah kru Media Umat. “Meskipun hanya merasakan asuhan kyai Sa’id selam dua tahun, namun terasa nikmat bisa berguru pada beliau. Tutur kata beliau itu penuh dengan kata-kata mutiara dan selalu membekas di hati.” Lanjutnya.

Satu kata, Mbah kyai Sa’id pernah bercerita bahwa sebetulnya beliau enggan ditunjuk sebgai pengurus NU, beliau sebenarnya lebih suka membina ummat di pesantren saja. Namun karena diminta oleh para kyai untuk menjadi syuriah NU, beliau pun tidak bisa menolaknya. Sikap itu dikarenakan beliau telah mendapatkan isyaroh, hasil istikharah yang diterimanya bahwa Nahdlatul Ulama itu min ahlil khoir (ahli kebaikan), karena itulah beliau mengiyakan saat ditunjuk sebagai syuriah NU Kabupaten Malang dan beliau laksanakan tugas tersebut dengan penuh amanat. “Sikap dan isyaroh kyai Muhammad Sa’id inilah yang menjadi pegangan saya untuk ikut berjuang, berdakwah melalui organisasi Nahdlatul Ulama,” tutur Ketua syuriah NU Kabupaten Malang ini.

KH. Moch. Mansjur & Alm. Kyai Machfudz Mewujudkan Impian Orang Tua Pondok Pesantren PPAI An-Nahdliyah merupakan pondok pesantren yang tetap eksis di tengah banyaknya lenbaga pendidikan di Malang. Pondok ini didirikan bersamaan dengan berdirinya MTs. Nahdlatul Ulama yang berada dalam satu lokasi. 

Pendirian pondok ini berawal dari wasiat almarhum H. Abdul Hadi Sa’id, tak lain adalah abah dari muassis (pendiri) Pondok Pesantren PPAI An-Nahdliyah untuk mengembangkan pendidikan Islam di Karangploso khususnya Kepuharjo.

Memang sejak kyai Mansjur berada di pesantren, abanya yang kerapkali mengunjungi beliau di pesantren mengharapkan agar anaknya kelak bisa mengasuh pesantren seperti kyai Muhammad Sa’id. Untuk mewujudkan keinginannya itu, abah kyai Muhammad Mansjur itu mewaqafkan tanah milik keluarga sembari berpesan kepada kyai Mansjur: “Iki engkok kelolaen (ini nanti kamu kelola)”. Maka pada tahun 1988, pada saat berada di tanah suci Makkah, beliau bermunajat kepada Allah SWT di tanah suci agar diberikan kemudahan dan kekuatan untuk melaksanakan wasiat abahnya.

 Pada awal berdirinya, tanah yang digunakan pesantren adalah tanah waqaf dari abah beliau. Pada tahun 1989 dimulailah pembangunan pondok ini dan selesai tahun 1990. Awalnya santri yang mondok hanya 60 orang. Dan yang sampai menamatkannya 42 orang. 

Secara bertahap makin tambah dan tambah, seiring dengan kualitas pendidikan yang diajarkan. Sehingga pondok ini memiliki tak kurang dari 350 santri (250 santriwati dan 100 santri). Di tengah tingginya biaya pendidikan, PPAI An-Nahdliyah memang tepat menjadi jujugan orang tua yang ingin menyekolahkan anakanya. 

Tidak perlu sedih bila ingin menyekolahkan putra-putri anda dengan biaya di bawah sekolah lain yang dirasa terlalu mahal. Di pesantren inilah kita bisa menyekolahkan putra-putri kita dengan biaya yang terjangkau. Di samping mendapat ilmu umum, putra-putri kita juga mendapatkan ilmu agama


Selasa, 11 April 2017

CARA MENGHILANGKAN #N/A PADA FORMULA VLOOKUP

Posted by Manu karlos on 16.06 with No comments
Memberikan hasil yang maksimal dan kenyamanan pengunjung termasuk prioritas kami sehingga ini akan sangat detail dan singkat. Kami harap Anda meluangkan waktu beberapa menit untuk membaca penjelasan dibawah ini secara cermat. PENJELASAN Ada beberapa cara menghilangkan tanda #N/A di formula vlookup termasuk cara ini. Penggabungan antara formula IF dan ISNA adalah termasuk salah satu caranya :
 Buka Microsoft Excel Buat
data seperti gambar dibawah ini



•Setelah membuat data diatas, sekarang di range H4 ketik rumus ini =VLOOKUP($G$2;$B$2:$D$6;2;0) •Di range G4 ketik rumus ini =IF(ISNA(VLOOKUP($G$2;$B$2:$D$6;2;0)=0);"Data tidak ditemukan";VLOOKUP($G$2;$B$2:$D$6;2;0))
•Kemudian di range G2 ketik sembarang
 •Sekarang sudah ketahuan bahwa rumus gabungan =IF(ISNA(VLOOKUP($G$2;$B$2:$D$6;2;0)=0);"Data tidak ditemukan";VLOOKUP($G$2;$B$2:$D$6;2;0)) itu lebih baik dari pada rumus vlookup biasa Demikian dari kamis semoga bisa membantu.

Jumat, 13 Mei 2016

Posted by Manu karlos on 21.21 with No comments
FORMULIR PENDAFRARAN ONLINE MANU KARANGPLOSO

Posted by Manu karlos on 21.20 with No comments
BROSUR PPDB TAHUN 2016 / 2017 Persyaratan Pendaftaran dengan menyerahkan Formulir Pendaftaran Pas Photo 3x4 6 Lembar Fotocopy Ijasah SMP/MTs Legalisir 2 Lembar Fotocopy SKHUN SMP/MTs Legasilisir 2 Lembar Fotocopy KK 1 Lembar Fotocopy Akte Lahir 1 Lembar Untuk Keterangan Lebih Lengkap Silahkan datang Ke Kantor MANU Kepuhajro Karangploso yang beralamat di Jl. Raya Kepuharjo 18a Karangploso Malang Kode Pos 65152 Contak Person : Ahmad Fauji ( 085234027518) Nahdlil Khoir (082335237676) Ainus Syukrihi (08126659086) Khusnur Rofiq (082233833370) untuk Mendapatkan Formulir Pendaftaran bisa didownload di

Senin, 09 Mei 2016

Pengalaman Peserta Didik

Posted by Manu karlos on 17.22 with No comments

Saya Aprilia Intan, saya alumni MA Nahdlatul Ulama jurusan keagamaan Lulusan tahun ini. Di MA Nahdlatul Ulama’ saya banyak diajarkan tentang ilmu akademik maupun non akademik.Banyak pengalaman yang saya dapatkan ketika masih berstatus siswa di MA NU. Mulai yang dulunya saya tidak mengerti tentang . keorganisasian, kepemimpinan, dan apa arti dari kebersamaan. Saya mendapatkannya di MA NU ini.
Tak hanya pendidikan non-akademik yang saya dapatkan. MA NU juga mempunyai tenaga pengajar yang sangat hebat.

Saat pelajaran Umum, saya tidak kalah dengan teman-teman yang bersekolah di luar. Kenapa saya bisa bicara seperti itu? Karena saya pernah menjadi perwakilan dari MA NU untuk lomba cerdas cermat tingkat SMA/MA/SMK dan MA NU bisa menyabet juara satu pada lomba tersebut, dan itu membuktikan bahwa MA kebanggaan saya tidak kalah dalam pelajaran Umumnya.

Jangan tanya bagaimana pelajaran agamanya. MA Nahdlatul Ulama mempunyai guru-guru yang mumpuni dalam bidangnya. Kita tidak hanya diajarkan tentang pelajaran yang ada dalam kurikulum pendidikan, tetapi juga beberapa masalah yang kerap terjadi ketika kita sudah terjun ke masyarakat.

Tak terasa waktu belajar saya di MA Nahdlatul Ulama telah berakhir, Saya berharap kepada adik-adik yang masih bisa memakai sergam kebanggaan MA Nahdlatul Ulama untuk bisa membanggakan sekolah kebanggaan kita.

Dan saya juga ingin berterima kasih kepada semua dewan guru MA Nahdlatul Ulama, yang telah mengantarkan saya sampai pada titik dimana saya saat ini.

Jangan pernah bosan bu, pak untuk membagi ilmunya pada kita, maafkan kami yang selama ini hanya bisa merepotkan tanpa ada prestasi yang membanggakan.

Dan untuk kalian yang sibuk mencari sekolah yang gak biasa, MA Nahdlatul Ulama Karangploso bisa menjadi pilihannya.