Senin, 09 Mei 2016

Pengalaman Peserta Didik

Posted by Manu karlos on 17.20 with No comments

Saya Aprilia Intan, saya alumni MA Nahdlatul Ulama jurusan keagamaan Lulusan tahun ini. Di MA Nahdlatul Ulama’ saya banyak diajarkan tentang ilmu akademik maupun non akademik.Banyak pengalaman yang saya dapatkan ketika masih berstatus siswa di MA NU. Mulai yang dulunya saya tidak mengerti tentang . keorganisasian, kepemimpinan, dan apa arti dari kebersamaan. Saya mendapatkannya di MA NU ini.
Tak hanya pendidikan non-akademik yang saya dapatkan. MA NU juga mempunyai tenaga pengajar yang sangat hebat.

Saat pelajaran Umum, saya tidak kalah dengan teman-teman yang bersekolah di luar. Kenapa saya bisa bicara seperti itu? Karena saya pernah menjadi perwakilan dari MA NU untuk lomba cerdas cermat tingkat SMA/MA/SMK dan MA NU bisa menyabet juara satu pada lomba tersebut, dan itu membuktikan bahwa MA kebanggaan saya tidak kalah dalam pelajaran Umumnya.

Jangan tanya bagaimana pelajaran agamanya. MA Nahdlatul Ulama mempunyai guru-guru yang mumpuni dalam bidangnya. Kita tidak hanya diajarkan tentang pelajaran yang ada dalam kurikulum pendidikan, tetapi juga beberapa masalah yang kerap terjadi ketika kita sudah terjun ke masyarakat.

Tak terasa waktu belajar saya di MA Nahdlatul Ulama telah berakhir, Saya berharap kepada adik-adik yang masih bisa memakai sergam kebanggaan MA Nahdlatul Ulama untuk bisa membanggakan sekolah kebanggaan kita.

Dan saya juga ingin berterima kasih kepada semua dewan guru MA Nahdlatul Ulama, yang telah mengantarkan saya sampai pada titik dimana saya saat ini.

Jangan pernah bosan bu, pak untuk membagi ilmunya pada kita, maafkan kami yang selama ini hanya bisa merepotkan tanpa ada prestasi yang membanggakan.

Dan untuk kalian yang sibuk mencari sekolah yang gak biasa, MA Nahdlatul Ulama Karangploso bisa menjadi pilihannya.

Kamis, 05 Mei 2016

Posted by Manu karlos on 18.28 with No comments
SURAT BUAT GURUKU
Terima Kasih untuk Guru Sudah tiga tahun diri ini mengabdi pada MANU tercinta dan di ajarkan ilmu-ilmu oleh guru-guruku yang luar biasa. Tanpa kenal lelah kau ayunkan langkah menuju gedugn tua tempat kami belajar. Kau sungguh manusia yang luar biasa. Jasa-jasamu begitu mulia dan kelak Tuhan kan membalasnya. "Seuntai kata ku ucapkan teruntuk kau pahlawan umat, pembimbing setiap manusia dan penerang kehidupan. Terima kasih atas ilmu yang telah kau berikan wahai guruku. Jasa-jasamu akan selalu ku kenang sampai kapanpun." "Terima kasih ku ucapkan kepadamu atas jasa-jasamu. Pengorbanan waktu, Sebuah niat suci yang mulia Dan kau rela tinggalkan anak-anakmu. Demi bimbingan ilmu untuk kita semuanya. Semoga Tuhan membalas jasa muliamu wahai guruku." "Sudah sekian tahun lamanya kita bersama, ikatan guru dan murid. Semua tak kan pernah terlupakan. Kau guru terbaiku yang akan selalu ku kenang selamanya. Biarkan ini menjadi cerita indahku di sekolah ini. Terima kasih atas bimbingan dan ilmu yang kau beri wahai guruku." "Ayunan langkah kau hentakan setiap hari. Keringat dingin tercucur deras di atas letih tubuhmu. Namun kau tak pernah lelah dengan semua itu. Kau inginkan kami sukses di masa depan nanti. Dengan ilmumu kita hidup lebih baik di masa depan. Terima kasih wahai guruku." "Nasihat dan bimbingan tulus darimu, akan ku kenang selalu untuk selamanya. Jasa-jasamu begitu mulia, kau akan menjadi guru terbaiku sepanjang masa. Terima kasih wahai guruku." Salam Ta'dhim Kami, Siswa Kelas XII Tahun 2015 / 2016

Jumat, 29 April 2016

Memuliakan Kitab ala Kitab Ta'limul Muta'al

Posted by Manu karlos on 08.25 with No comments

ومن تعظيم العلم: تعظيم الكتاب، فينبغى لطالب العلم أن لا يأخذ الكتاب إلا بطهارة.    وحكىعن الشيخ شمس الأئمة الحلوانى رحمه الله تعالى أنه قال: إنما نلت هذا العلم بالتعظيم، فإنى ما أخذت الكاغد إلا بطهارة. والشيخ الإمام شمس الأئمة السرخسى كان مبطونا فى ليلة، وكان يكرر، وتوضأ فى تلك الليلة سبع عشرة مرة لأنه كان لا يكرر إلا بالطهارة، وهذا لأن العلم نور والوضوء نور فيزداد نور العلم به.

Termasuk arti mengagungkan ilmu, yaitu memulyakan kitab, karena itu, sebaiknya pelajar jika mengambil kitabnya itu selalu dalam keadaan suci. Hikayat, bahwa Syaikhul islam Syamsul Aimmah Al-Khulwaniy pernah berkata : “Hanya saya dapati ilmu ilmuku ini adalah dengan mengagungkan. Sungguh, saya mengambil kertas belajarku selalu dalam keadaan suci.
Syaikhul Imam Syamsul Aimmah As-sarkhasiy pada suatu malam mengulang kembali pelajaran-pelajarnnya yang terdahulu, kebetulan terkena sakit perut. Jadi sering kentut. Untuk itu ia melakukan 17 kali berwudlu dalam satu malam tersebut, karena mempertahankan supaya belajar dalam keadaan suci. Demikianlah sebab ilmu itu cahaya, wudlupun cahaya. Dan cahaya ilmu akan semakin cemerlang bila di barengi cahaya berwudlu.

ومن التعظيم الواجب للعالم أن لا يمد الرجل إلى الكتاب ويضع كتاب التفسير فوق سائر الكتب [تعظيما] ولا يضع شيئا آخر على الكتاب.

Termasuk memulykan yang harus dilakukan, hendaknya jangan membentangkan kaki kearah kitab. Kitab tafsir letaknya diatas kitab-kitab lain, dan jangan sampai menaruh sesuatu diatas kitab.

وكان أستاذنا الشيخ برهان الدين رحمه الله تعالى يحكى عن شيخ من المشايخ: أن فقيها كان وضع المحبرة على الكتاب، فقال له [بالفارسية]: برنيايى

Guru kita Burhanuddin pernah membawakan cerita dri seorang ulama yang mengtakan ada seoranag ahli fikih meletakan botol tinta di atas kitab. Ulama itu sraya berkata : “Tidak bermanfaat ilmumu.

وكان أستاذنا القاضى الإمام الأجل فخر الدين المعروف بقاضى خان رحمه الله تعالى يقول: إن يرد بذلك الاستخفاف فلا بأس بذلك والأولى أن يحترز عنه.

Guru kita Qodli Fakhrul Islam yang termasyur dengan Qodli Khan pernah berkata: “Kalau yang demikian itu tidak dimaksud meremehkan, maka tidak mengapalah. Namun lebih baiknya disingkiri saja.”

ومن التعظيم: أن يجود كتابة الكتاب ولا يقرمط ويترك الحاشية إى عند الضرورة.
ورأى أبو حنيفة رحمه الله تعالى كتابا يقرمط فى الكتابة فقال: لا تقرمط خطك، إن عشت تندم وإن مت تشتم. يعنى إذا شخت وضعف نور بصرك ندمت على ذلك.
وحكى عن الشيخ الإمام مجد الدين الصرخكى، حكى أنه قال: ما قرمطنا ندمنا، وما انتخبنا ندمنا، وما لم نقابل ندمنا

Termasuk pula arti mengagungkan, hendak menulis kitab sebaik mungkin. Jangan kabur, jangan pula membuat catatan penyela/penjelas yang membuat tulisan kitab tidak jelas lagi, kecuali terpaksa harus dibuat begitu. Abu hanifah pernah mengetahui seorang yang tidak jelas tulisannya, lalu ujarnya: “Jangan kau bikin tulisanmu tidak jelas, sedang kau kalau ada umur panjang akan hidup menyesal, dan jika mati akan dimaki.” Maksudnya, jika kau semakin tua dan matamua rabun, akan menyesali perbuatanmua sendiri itu. Diceritakan dari Syaikhul Imam Majduddin Ash-Shorhakiy pernah berkata: “Kami menyesal;I tulisan yang tidak jelas, catatan kami yang pilih-pilih dan pengetahuan yang tidak kami bandingkan dengan kitab lain.”

وينبغى أن يكون تقطيع الكتاب مربعا، فإنه تقطيع أبى حنيفة رحمه الله تعالى، وهو أيسر على الرفع والوضع والمطالعة

Sebaiknya format kitab itu persegi empat, sebagaimana format itu pulalah kitab-kitab Abu Hanifah. Dengan format tersebut, akan lebih memudahkan jika dibawa, diletakkan dan di muthalaah kembali.

وينبغى أن لا يكون فى الكتابة شيئ من الحمرة، فإنه من صنيع الفلاسفة لا صنيع السلف، ومن مشايخنا كرهوا استعمال المركب الأحمر.

Sebaiknya pula jangan ada warna merah didalam kitab, karena hal itu perbuatan kaum filsafat bukan ulama salaf. Lebih dari itu ada diantara guru-guru kita yang tidak suka memakai kendaraan yang berwarna merah

Selasa, 26 April 2016

Sikap Selalu Hormat dan Khidmat

Posted by Manu karlos on 21.38 with No comments

وينبغى لطالب العلم أن يستمع العلم والحكمة بالتعظيم والحرمة، وإن سمع مسألة واحدة أو حكمة واحدة ألف مرة. وقيل: من لم يكن تعظيمه بعد ألف مرة كتعظيمه فى أول مرة فليس بأهل العلم.

Hendaknya penuntut ilmu memperhatikan segala ilmu dan hikmah atas dasar selalu mengagungkan dan menghormati, sekalipun masalah yang itu-itu saja telah ia dengar seribu kali. Adalah dikatakan : “Barang siapa yang telah mengagungkannya setelah lebih dari 1000 kali tidak sebagaimana pada pertama kalinya, ia tidak termasuk ahli ilmu.” (ta'limul muta'alim)

Keutamaan Ilmu

Posted by Manu karlos on 06.45 with No comments

Keutamaan Ilmu.

وشرف العلم لايخفى على أحد إذ هو المختص بالإنسانية لأن جميع الخصال سوى العلم، يشترك فيها الإنسان وسائر الحيوانات: كالشجاعة والجراءة والقوة والجود والشفقة وغيرها سوى العلم.

Tidak seorang pun yang meragukan akan pentingnya ilmu pengetahuan, karena ilmu itu khusus dimiliki umat manusia. Adapun selain ilmu, itu bisa dimiliki manusia dan bisa dimiliki binatang. Dengan ilmu pengetahuan.

وبه أظهر الله تعالى فضل آدم عليه السلام على الملائكة، وأمرهم بالسجود له.

Allah Ta’ala mengangkat derajat Nabi Adam as. Diatas para malaikat. Oleh karena itu, malaikat di perintah oleh Allah agar sujud kepada Nabi Adam as.

وإنما شرف العلم بكونه وسيلة الى البر والتقوى، الذى يستحق بها المرء الكرامة عند الله، والسعادة والأبدية، كما قيل لمحمد بن الحسن رحمة الله عليهما شعرا:
تعـلـم فــإن الـعلـم زيـن لأهــلــه            وفــضـل وعــنـوان لـكـل مـــحامـد
وكــن مـستـفـيدا كـل يـوم زيـادة            من العـلم واسـبح فى بحـور الفوائـد
تـفـقـه فإن الـفــقـه أفــضـل قائـد            الى الــبر والتـقـوى وأعـدل قـاصـد
هو العلم الهادى الى سنن الهدى             هو الحصن ينجى من جميع الشدائد
فـإن فـقيــهـا واحــدا مــتـورعــا            أشـد عـلى الشـيطـان من ألـف عابد

Ilmu itu sangat penting karena itu sebagai perantara (sarana) untuk bertaqwa. Dengan taqwa inilah manusia menerima kedudukan terhormat disisi Allah, dan keuntungan yang abadi. Sebagaimana dikatakan Muhammad bin Al-Hasan bin Abdullah dalam syairnya : “Belajarlah! Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. dia perlebihan, dan pertanda segala pujian, Jadikan hari-harimu untuk menambah ilmu. Dan berenanglah di lautan ilmu yang berguna.”

Belajarlah ilmu agama, karena ia adalah ilmu yang paling unggul. Ilmu yang dapat membimbing menuju kebaikan dan taqwa, ilmu paling lurus untuk di pelajarai. Dialah ilmu yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, yakni jalan petunjuk. Tuhan yang dapat menyelamatkan manusia dari segala keresahan. Oleh karena itu orang yang ahli ilmu agama dan bersifat wara’ lebih berat bagi setan daripada menggoda seribu ahli ibadah tapi bodoh.

Jumat, 10 April 2015

Orang Dekat

Posted by Manu karlos on 23.03 with No comments
Ainus Syukrihi, S.Pd.I

Dialah seorang pria berasal dari Desa Pandansari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. dia mengawali karir sebagai tukang sapu di Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama Sejak tahun 2003. disamping itu dia termasuk orang yang sangat rajin Dan tekun belajar. Pada tahun 2006 disela2 kesibukannya menjadi mahasiswa  di STAI Raden Rahmat Kepanjen dan santri di pondok pesantren PPAI ANNAHDLIYAH Kepuharjo Karangploso Malang dia menyempatkan diri untuk membersihkan Madrasah setiap Pagi dan sore dengan hati yang ikhlas dan dia rela tidak dibayar meski setiap hari menyapu Madrasah dan lingkungan. hingga bersih tanpa ada daun yang berserakan.

Belau adalah Ainus Syukrihi, rupa-rupanya Ainus Syukrihi adalah sosok orang yang sangat santun kepada semua orang baik dilingkungan Madrasah dan pondok Pesantren dia dikenal sebagai orang yang sangat pendiam. dan akhirnya pada tahun 2012 dia diangkat menjadi Staf TU di Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama. dan merangkap menjadi Guru mata pelajaran Ilmu Hadits dan Ilmu Kalam.

Ia adalah sosok guru yang dinilai paling dekat dengan murid. Murid dibebaskan secara leluasa menyampaikan segala pendapat, kritikan, maupan aspirasi untuk suksesnya proses belajar mengajar. Kedekatannya tidak membuat murid-murid berlaku senonoh terhadap dirinya, namun sebaliknya karena kejujuran, keikhlasan, dan ketulusan cinta kasih kepada muridnya itu, membuat setiap murid segan kepada dirinya.

sesekali Ainus Syukrihi memberikan wejangan moral kepada para siswa untuk selalu menghormati Guru dan menjaga akhlak kepada semua, "Wahai muridku, lakukanlah terbaik untuk masa depanmu dan jangan siasiakan masa mudamu. Hormatilah gurumu, dia selalu tulus mencintaimu. Raihlah cita-citamu setinggi langit dan belajarlah"

Jumat, 18 April 2014

Suatu hari ada caleg (Calon anggota legislatif) dari salah satu partai politik peserta pemilu. Caleg ini sampai di Pekalongan setelah menempuh perjalanan tak kurang dari 4 jam. Meskipun Maulana Habib Lutfi membuka pintu rumahnya selama 24 jam dalam setahun penuh, bisa bertemu beliau langsung setelah menginjakan kaki dirumah beliau bukanlah tetaplah bukan hal mudah, karena kesibukan beliau yang teramat padat. Caleg ini diantar oleh Habib Muda dikampungnya. Setelah basa-basi keduanya bergantian mengutarakan maksud kedatangannya itu. “Habib, saya tahun lalu membantu mencairkan dana dari pusat untuk kabupaten ‘A’, waktu itu Bupati menjangjikan saya prosentase ‘sekian’ prosen. Tapi hingga kini ia belum menempati jangjinya secara penuh, saya baru dikasih Rp. 50 juta.
Sekarang saya lagi butuh buat kampanye sebagai caleg. Dana itu bisa cair karena saya kenal baik dengan orang pusat dari partai ‘A’. Demikian pak Caleg, bercerita panjang lebah tanpa merasa ada yang salah dengan apa yang disampaikannya. Ia merasa punya budi baik yang harus dibalas oleh si empunya jabatan. Tentu saja maksudnya pak ‘Caleg’, ingin Maulana Habib Lutfi mengeluarkan surat sakti yang ditujukan pada si Bupati yang dianggap punya ‘hutang jasa’ kepada si Caleg. Sejenak Abah, -begitu murid beliau memanggil Maulana Habib Lutfi-, menghela nafas. Kemudian dengan halus menyampaikan, bahwa pola hutang budi dalam kasus seperti itu tidak dibenarkan oleh undang-undang dan hukum Negara. Anggaran itu haruslah digunakan sebagaimana mestinya. Dan tidak dibenarkan siapapun mengklaim punya hak barang sepeserpun darinya. Dan jika itu dilakukan, perbuatan itu melawan hukum.
Sejurus Caleg dan Habib Muda mengangguk, tampak keduanya sedang mereka-reka jawaban yang mereka anggap logis. ‘Tapi bupati itu sudah jangji Bah’, Habib muda itu membela. ‘Ia jangji itu apabila dari uang dia pribadi tidak masalah, tapi kalau dari uang Negara jelas tidak bisa. ‘Sudahlah jangan terlalu menggantungkan harapan terlalu tinggi pada orang’. Terpaksa Habib menasehati. Memang bukan kebiasaan Abah Lutfi mencecar tamunya dengan ‘ceramah atau bertitah’. Biasanya tamunya diajak ngalor ngidul cerita ini-itu tanpa merasa digurui. Setelah keduanya agak tenang,
Abah mengatakan, ‘jangan ta’aluk (menggantungkan hati) terhadap dunia. Allah Swt membuat langit tanpa tiang, surga tanpa desain. Jadi caleg ya maju saja, tapi jangan mengaitkan hati pada uang. Ta’aluk-lah kepada Allah, bergantunglah kepada Allah. Berdoa’ ‘ya Allah jadikan saya dewan, paringi kelancaran, kulo pasrah bongkokan kalih panjengan, beri saya kelancaran, saya berserah diri padaMu ya Allah. Insya Allah jadi. ‘Saya punya dua murid, yang satu menjadi calon lurah, yang satu jadi calon bupati. Dua-duanya tidak punya uang. Yang calon lurah ini, buat makan sehari-hari saja sulitnya minta ampun (nibo tangi). Dia hanya bisa menyuguhi teh untuk tamunya yang datang sebelum pemilihan. Alhamdillah keduanya jadi’. Pungkas Abah Habib Lutfi. (Tsi)


Simak di: http://www.sarkub.com/2014/teladan-caleg-calon-legislatif-dari-pekalongan/#ixzz2zISBWQfZ
Powered by Menyansoft
Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on Facebook